Cie… judulnya ngeri! Ini ni boi… tadi aku sempat ngliat buku bagus. Judulnya “engkau lebih cantik dengan jilbab” ! jia… that’s right!! Emang akhwat lebih cantik og nek pakai jilbab. Menurutku sih… tapi nek sebagian orang mungkin laen. Tapi kebanyakan orang tu kaya’ aku og boi… santai… tak usahakan se objektiv mungkin!
Sebagai Adik dari 3 akhwat yang kesemuanya udah punya anak minimal 3 (Jadi formasi ponakanku itu 3-4-3. Total 10. Haha… dan yang lagi punya 3 anak insyaAllah sekarang hamil lagi… wah, mo 12 nih…) tentunya diriku sudah memiliki berbagai macam gambaran tentang akhwat. Yah, minimal 3 macem. 4 macem ding sama ibuku. Tapi over all, sifat makhluk halus yang satu ini sebenarnya sama og. Pengen tampil menarik dan pengen diperhatikan. Hayo akhwat mana yang gak gitu? Ya paling enggak buat suaminya lah… tapi santai boi… aku gak akan membongkar rahasia umum ini. Yang aku soroti adalah bagaimana sih, yang lebih cantik dengan jilbab ini jadi kehilangan pesonanya? Ini di mataku lo ya… kalau di mata Allah atau orang laen pasti beda. Karena pasti hal hal yang ditoleransipun berbeda.
Sobat, dulu aku pernah ngeFans berat sama seorang akhwat (sekarang masih nggak ya..?), sampai tidur tak enak makan tak nyeyak! Semua keindahan dunia seakan tertutup oleh hijabnya yang lebar indah menawan, panjang sampai ke dada, bahkan lebih panjang lagi. Sampai pada suatu hari. Si akhwat yang begitu perfect di mataku ini menjabat seorang laki laki yang bukan mahromnya. ~Setahuku sih bukan mahromnya~. Tapi nggak tau juga nek aku salah… yang dia jabat bukanlah teman se angkatan ataupun siswa ~kala itu aku masih siswa~. Tapi pak kepala sekolah! Yah, menurutku mungkin inilah sebuah peribahasa berlaku. Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga! Nek menurutmu pasti biasa aja. Tapi nek menurutku yang waktu itu sudah mau belajar dien, (gara gara dia juga kali ya? waAllahu a’lam) memandang hal itu bukanlah sesuatu yang biasa walaupun si akhwat ini punya segudang prestasi dan mengharuskan diri berdiri di depan. Tapi boi, bukankah menjabat tangan pak kepala sekolah itu pilihan? Tapi setelah aku melihat diriku sendiri ya… akhirnya aku mentolerir hal itu. Lah beberapa kali aku juga terpaksa di uyel uyel bulik (istri adiknya bapakku), nek ketemu mesti langsung dikudang terus diciumi gitu… nyebelin banget gak!?
nah, peruntuh pesona jilbabmu yang pertama adalah “Melakukan Hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang akhwat, seperti berjabat tangan dengan lelaki non mahrom misalnya. di depan seorang laki laki yang “agak” mudheng agama. <”agak” lo ya, nek mudheng beneran hasilnya laen>”. Sekali lagi ini dari perspektiveku ok…?
Kejadian kedua, Ssstt… ini kejadiannya di mipa. Waktu itu aku lagi ngobrol di counternya mas sholeh ada seorang akhwat yang kelihatannya sangat luar biasa (dilihat dari penampilannya yang rapi mengenakan jilbab yang besar dan gamis, juga deker di tangannya. Udah gitu masih pake celana panjang di dalemnya) sedang mengeluarkan motornya dari parkiran. Ketika beliau sedang nyengklak (nyengklak bahasa indonesiane opo aku gak ngerti) motor, gamis dan bahkan celana panjangnya tidak berhasil menutupi sejengkal (hanya sejengkal) bagian di atas mata kakinya. Lah kaos kakinya ternyata pendek banget, cuman se mata kaki lebih dikit mungkin. Aku jadi ingat kisahnya si boby. “ada seorang wanita yang sangat cantik berjalan dengan lemah gemulai, perfect! Semua orang memandangnya dengan terpesona… tapi tiba tiba, mak klenyek si wanita super cantik ini nginjak kotoran kebo!” hihi… apa yang kalian pikirkan saudaraku? Pelajaran moral yang dapat diambil dari sini bagi seorang akhwat yang sudah berjilbab adalah : “jangan menyepelekan apa yang kamu pakai”, karena bisa jadi itu adalah peluntur pesonamu -yang sebenarnya telah disematkan Allah pada setiap akhwat.
Yang ke tiga… rahasia… hanya Allah dan Aku yang tahu… hihihi…. Atau ada yang mau menambahkan?
Hav a nice hijab ukhti. Barakallah…
Sebagai Adik dari 3 akhwat yang kesemuanya udah punya anak minimal 3 (Jadi formasi ponakanku itu 3-4-3. Total 10. Haha… dan yang lagi punya 3 anak insyaAllah sekarang hamil lagi… wah, mo 12 nih…) tentunya diriku sudah memiliki berbagai macam gambaran tentang akhwat. Yah, minimal 3 macem. 4 macem ding sama ibuku. Tapi over all, sifat makhluk halus yang satu ini sebenarnya sama og. Pengen tampil menarik dan pengen diperhatikan. Hayo akhwat mana yang gak gitu? Ya paling enggak buat suaminya lah… tapi santai boi… aku gak akan membongkar rahasia umum ini. Yang aku soroti adalah bagaimana sih, yang lebih cantik dengan jilbab ini jadi kehilangan pesonanya? Ini di mataku lo ya… kalau di mata Allah atau orang laen pasti beda. Karena pasti hal hal yang ditoleransipun berbeda.
Sobat, dulu aku pernah ngeFans berat sama seorang akhwat (sekarang masih nggak ya..?), sampai tidur tak enak makan tak nyeyak! Semua keindahan dunia seakan tertutup oleh hijabnya yang lebar indah menawan, panjang sampai ke dada, bahkan lebih panjang lagi. Sampai pada suatu hari. Si akhwat yang begitu perfect di mataku ini menjabat seorang laki laki yang bukan mahromnya. ~Setahuku sih bukan mahromnya~. Tapi nggak tau juga nek aku salah… yang dia jabat bukanlah teman se angkatan ataupun siswa ~kala itu aku masih siswa~. Tapi pak kepala sekolah! Yah, menurutku mungkin inilah sebuah peribahasa berlaku. Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga! Nek menurutmu pasti biasa aja. Tapi nek menurutku yang waktu itu sudah mau belajar dien, (gara gara dia juga kali ya? waAllahu a’lam) memandang hal itu bukanlah sesuatu yang biasa walaupun si akhwat ini punya segudang prestasi dan mengharuskan diri berdiri di depan. Tapi boi, bukankah menjabat tangan pak kepala sekolah itu pilihan? Tapi setelah aku melihat diriku sendiri ya… akhirnya aku mentolerir hal itu. Lah beberapa kali aku juga terpaksa di uyel uyel bulik (istri adiknya bapakku), nek ketemu mesti langsung dikudang terus diciumi gitu… nyebelin banget gak!?
nah, peruntuh pesona jilbabmu yang pertama adalah “Melakukan Hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang akhwat, seperti berjabat tangan dengan lelaki non mahrom misalnya. di depan seorang laki laki yang “agak” mudheng agama. <”agak” lo ya, nek mudheng beneran hasilnya laen>”. Sekali lagi ini dari perspektiveku ok…?
Kejadian kedua, Ssstt… ini kejadiannya di mipa. Waktu itu aku lagi ngobrol di counternya mas sholeh ada seorang akhwat yang kelihatannya sangat luar biasa (dilihat dari penampilannya yang rapi mengenakan jilbab yang besar dan gamis, juga deker di tangannya. Udah gitu masih pake celana panjang di dalemnya