
Sobat, aku mau bercerita tentang seorang pemuda yang telah lama ku kenal. (ini dalam rangka mengamalkan ilmu baru, kurang lebih bunyinya gini : "menulislah dengan hati, lalu benahi dengan pikiranmu", yah... siapa tau aja 'gaya' tulisan seperti ini laku dijual nantinya, lumayan kan bisa buat bayar mahaL.. hehe...)
dahulu kala pada tahun 2004 masuklah seorang pemuda desa ke sebuah sekolah menengah atas paling favorit di kotanya. Suatu hal yang luar biasa baginya, dia merealisasikan mimpi ayahnya. dia berkata kepadaku bahwa ayahnya dulu adalah seorang pegawai kejaksaan negeri. pada waktu kecil, pemuda ini sering diajak piket malam di kantor, dulu... dulu sekali sebelum ia mengenal bangku sekolah.
makanan favoritnya adalah soto, dan kebetulan kantin kejaksaan negeri itu ada menu soto, pemuda itu sangat senang jika diajak makan soto disitu, di kantin kejaksaan. suatu ketika ayahnya berkata kepadanya. (kebanyakan conversation kebanyakan berbahasa jawa ngoko, tetapi sudah ane translate ke dalam bahasa indonesia) : "nak, kamu nanti kalau sudah besar sekolah disitu ya..." sambil menunjuk sebuah aula sekolah di seberang jalan kantin tempat biasa makan soto. menurut pemuda yang masih ingusan kala itu sekolah itu tak tampak cukup keren. kata kata ayahnya itu masih terekam dengan baik di kepala pemuda itu sampai bertahun tahun kemudian ia berhasil memasuki sekolah favorite itu dengan tanpa kesulitan sedikitpun. tak disangka, tak dinyana... cita cita ayahandanya tercapai juga. cita cita seorang ayahanda yang menginginkan pendidikan terbaik bagi putranya. tapi sayang, ayahnya tak sempat melihatnya mengenakan almamater SMA paling keren di kota itu... Almamater yang dulu paling ingin beliau lihat melekat di badan sang putra. Almamater yang pernah diamanatkan kepada putra semata wayang bertahun tahun yang lalu. karena kini beliau sudah berada jauh dari sisi putra tercintanya... jauh sekali... semoga Allah mempertemukan mereka di syurga nanti. amin...
ya, ayahnya talah meninggal dua tahun yang lalu karena hypertensi. dulu pemuda itu pernah bercerita kepadaku bahwa takanan darah ayahnya sangat tinggi, sampai 210-220!! (gak tau ukuran tekanan darah apa. ada yang tahu satuan ukur tekanan darah apa?). luar biasa... banyak dokter berdecak kagum melihat kondisi itu. karena biasanya jika orang memiliki tekanan darah setinggi itu seharusnya sudah tidak mampu berdiri. tetapi ayah dari pemuda itu mampu pergi ke dokter mengendarai sepeda motor seorang diri! benar benar luar biasa.
Sobat, perkenankanlah aku menceritakan ayah dari pemuda itu padamu. karena pemuda itu memperbolehkan aku untuk bercerita perihalnya, kehidupannya dan juga keluarganya. semoga kita dapat mengambil ibroh dari cerita jadul ini. cerita yang pemuda itu ceritakan kepadaku selaku sahabat karibnya.
sobat, ayah dari pemuda itu bernama moeljadi. mulyadi kalau ditulis dengan ejaan sekarang. tapi untuk selanjutnya aku akan menuliskan nama beliau dengan ejaan lama saja. sama dengan yang selalu beliau tuliskan di buku raport putra tercintanya.
sob, pak moeljadi muda dahulu bukanlah orang yang dekat dengan Tuhannya. tak seperti kamu. yah, maklum saja karena dia berasal dari keluarga orang desa terpencil, pun kelahiran tahun 1938 kalo ndak salah. aku lupa. banyak sekali cerita tentang beliau yang sampai kepadaku. bahkan mungkin bisa ditulis dalam sebuah buku besar... tapi santai saja sob, aku hanya akan menceritakan beberapa keping puzzle kehidupannya saja kepadamu. aku tak ingin kau mengenalnya terlalu jauh seperti aku dan pemuda itu mengenalnya.
kau tau sob, moeljadi adalah seorang yang pernah ditolak cintanya. bukan oleh ibu dari pemuda itu. tetapi cinta pertamanya.
pertama kali dia jatuh cinta adalah kepada wanita seorang anak tentara. tidak terlalu cantik, tetapi dia mencintainya. dia hanya mengenalnya dan beberapa kali bertemu dengannya. itupun tidak dengan ngobrol. entah kenapa wanita itu telah mampu mencuri hatinya. tidak seperti anak sekarang yang pacaran sob, dulu pacaran itu tabu. lebih banyak dijodohkan orang tua.
sob, semakin hari semakin besar rasa cinta moeljadi kepada wanita itu, lantas dia memberanikan diri untuk melamarnya -kala itu usianya sekitar 20an-. Kau tau sob, cinta kedua yang paling menyakitkan setelah cinta yang diacuhkan (arai kepada dzakkiyyah nurmala==> dari novel Sang Pemimpi) adalah cinta yang tidak direstui orangtuanya!! ya, Lamarannya ditolak Oleh ayah dari wanita itu. yang menginginkan putrinya menikah dengan Tentara juga! dasar kolot ya sob... kasian moeljadi muda...
karenanya moeljadi patah hati! hatinya hancur berkeping keping. sampai menimbulkan trauma yang sangat mendalam. sangat dalam... pasca itu sebenarnya banyak perempuan yang tertarik kepadanya. berkali kali dia dijodohkan oleh orangtuanya. tapi dia sudah ill feel sama wanita. semuanya tidak cocok!! Sikapnya selalu dingin dengan wanita. mungkin karena hatinya yang telah membeku seperti Es, tak ada yang mampu mencairkan Hatinya yang membeku itu sampai pada akhirnya datanglah seorang guru muda lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mengajar di Sekolah dasar tempat moeljadi sering bermain badminton dengan rekan rekannya.
suit suit... namanya sarwini. seorang dara cantik berumur 19 tahun yang baru saja lulus dan sedang wiyata bakti di SD itu. hatinya meleleh untuk kedua kalinya... -kala itu moeljadi sudah berumur kurang lebih 32 tahun-. moeljadi sering memperhatikannya ketika wanita menakjubkan itu ada di lingkungan SD. "ya Allah... apa yang harus ku lakukan?" mungkin itu yang ada dalam pikirannya saat itu. setelah beberapa bulan hanya berani melihat dari kejauhan saja, lama kelamaan dia berfikir, "kalau aku hanya melihat saja, tak mungkin dia jadi miliku. aku harus take action!" katanya kepada dirnya sendiri. dimulailah perannya sebagai detective. mencari kebenaran, eh, mencari informnasi tentang gadis bernama sarwini itu ding. setelah tanya sana sini akhirnya.. ting'... kebetulan juga ternyata sarwini ini memiliki banyak waris (saudara) yang moeljadi kenal. diapun meminta untuk prosses. __ sebenarnya banyak polemik saat proses ini, termasuk rasa trauma moeljadi karena ditolak, tapi afwan ndak kuceritakan, kalau kuceritakan bisa jadi novel beneran ini.. __ singkat cerita prosespun berjalan dan meraka menikah di tahun itu juga. moeljadi 32 tahun, sarwini 19 tahun. merekalah orangtua dari pemuda yang akan aku ceritakan nanti...
========
