Tentang perasaan yang tidak bisa dirasakan …
Titik titik air turun dengan ceria, melompat lompat girang di pelataran mipa. Pukul 14.45 aku mulai mengetikkan kata kata dengan laptopku. Menumpahkan pilu yang sedari tadi bersarang dalam kalbu. Sebuah keheningan kurasakan disini, di mushola gedung B FMIPA UNS. Sendiri… it’s very kind of me. Sendiri, dan senang menyendiri. Ruangan ini redup diterpa semburat pantulan sinar mentari yang tertutup mendung hari ini. Ya, memang sudah seharusnya redup. Seperti hatiku yang redup hari ini.
Ketika sebuah asa memaksa jiwa lakukan karya. Sedikit rasa bergerilya untuk memadamkannya. FUTUR!! Mungkin itu yang aku rasakan hari ini. Tanpa ada yang menghibur, tanpa ada yang menegur! Membuatku beberapa langkah mundur teratur. Hey… jiwa tak akan pernah lelah!! Hanya semangat yang mungkin dalam posisi titik balik minimum. Dan hanya kepada Allahlah kamu akan dikembalikan. Maka nikmat apa lagi yang kamu dustakan? Ingin rasanya pipi ini mengalir sungai cinta kepadaNYA, rasa harap, takut, cemas hanya karenaNYA. Dan tak ada lagi yang tak sirna selain Dia.
Kenapa harus merasa risau, bila sesuatu nikmat yang Allah berikan kepada hambanya berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang mampu menahannya! Aku… sekarang sangat sadar dan menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan besar!! Sebuah kesalahan tentang perasaan, tapi dimana kesalahan itu…?? Hati ini mengharu biru mencari makna dalam kalbu. Seperti kecepatan rambat suara di ruang hampa!! Memang ada?? Sebuah jawaban yang ternyata telah lama diberikan Allah pada Hambanya. Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku, katanya. Bukan hanya beribadah… sebuah keridhoan dariNya adalah yang terpenting. Kau tau apa kesalahanku?
Kesalahan terbesarku adalah “MENJADIKAN SARANA SEBAGAI TUJUAN”!! Sering sekali aku melakukan itu, kau tahu itu kan? Kaya, Status Sosial, Kemampuan Berbicara, Skill coding, Pulang kampung, IP bagus, Penghasilan Tinggi, Istri Sholehah… semua itu hanyalah sarana!! Tidak lebih!!! Kenapa aku selalu pusing memikirkan sebagian dari mereka? Bukankah mereka itu hanya sarana? SARANA UNTUK MENDAPATKAN Ridho Allah Azza Wa Jalla. Sama sekali bukan Tujuan!! Dan si payah arief sering menuju sarana itu dengan menggebu.
Dan untuk calon istriku, blog ini juga adalah sebuah sarana menggapai keridhoannya. Bukan untuk pamer kepadamu, apalagi pembuktian cintaku padamu. Payah… Payah benar jika aku meniatkan blog ini hanya untukmu saja. Walau memang benar ini adalah seberkas cintaku untukmu. Tapi hari ini… Sebuah perasaan yang tak bisa dirasakan … telah aku rasakan melalui sebuah epilog kehidupan. Kehidupan hari ini. Yang tak akan pernah terulang lagi…
Astaghfirullah…
Hanya Kepada-MU hamba berserah diri