Cahaya putih semakain lama semakin jelas... apakah aku sudah berada di alam lain ya Allah...? lama kelamaan semakin jelas pandangan yang sejak tadi hanya cahaya putih yang kabur..
belum, aku belum mati! Tapi dimana aku? Aku hanya bisa menatap langit langit rumah tanpa plavon. Rumah yang sangat sederhana. Tapi rumah siapa? Aku tidak mengenal ruangan ini...
“sudah siuman mas...” kata seorang gadis cantik berkulit putih. Pakaiannya sederhana, Tapi tidak mengenakan hijab. Kalau aku lihat lihat, gadis ini mirip artis idolaku EMMA WATSON. Tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu!
“saya dimana mbak?” kataku pertama kali pada gadis itu. Gadis yang kurasa masih seumuran denganku.
“di rumah saya mas, di desa pandanan. Kemarin mas saya temukan mas tergeletak di parit jalan korose saat saya dan nenek saya pulang dari sawah. Ada luka tusukan di perut mas yang cukup dalam. Tapi utunglah nenek saya seorang tabib. Jadi beliau langsung dapat menghentikan pendarahan di luka tusukan mas... karena rumah sakit terlalu jauh dari sini, jadi nenek saya membawa mas pulang untuk diobati. O ya, mas namanya siapa?”
“A..a.rief... Arief a.di” jawabku dengan suara lemah.
“mbak di rumah sendiri?” selidikku.
“iya” jawabnya singkat.
“ka.ka..lau begitu saya harus pergi sekarang.” kataku sambil berusaha bangkit dari tempat tidurku. Tapi aku tidak berhasil mengangkat sedikitpun tubuhku. Jangankan untuk bangkit, menggerakkan tangan saja rasanya sudah susahnya minta ampun...
“hihihi... mas mas... mas itu luka parah. gak mungkin bangun untuk beberapa hari ke depan. Mas tidur saja dulu... istirahat sampai sembuh. Baru pergi..” dia malah menertawakanku.
Tapi dengan sekuat tenaga berkat kekeras kepalaanku aku perlahan lahan berhasil duduk. Gadis itu kaget juga melihat aku bisa duduk.
“mas, istirahat dulu. Jangan banyak bergerak! Nanti lukanya membuka lagi” katanya cemas sampai berusaha membaringkanku lagi.
“Tidak! Aku tidak mau disini kalau hanya dengan mbak” kataku mencoba tegas.
“mas, maksudnya sendiri itu saya di ruangan lagi sendiri saja. Tapi saya tinggal disini dengan Ayah dan nenek kok” ayah di luar sedang membelah kayu bakar. Akan kupanggilkan kalau kau tak percaya.
“Ayah! Ayah...! kemari yah...” katanya setengah berteriak.
Tak lama kemudian seorang pria yang tampak tua datang tergesa gesa. “Ada Apa nem...!?” dia datang menghambur ke arahku dan tanpa ba bi bu membaringkanku lagi dengan paksa.
“Jangan bangun dulu mas. Istirahat dulu. Mas gak usah pekewuh dengan kami...” kata bapak tua itu meyakinkan.
Aku hanya bisa terdiam. Tenagaku sudah habis. Bergerak menjadi tambah sulit bagiku. Perkataan pak tua itu hanya ku balas dengan senyuman.
==oOOo==
sudah 7 hari aku di rumah ini. Semua barang barangku raib diambil perampok kemarin. Yang tersisa hanya sebuah tas yang berisi rantang bocor yang telah berjasa menyelamatkanku dari tebasan parang, juga dua butir obat cuci perut. Tak ada Handphone. “Pasti semua keluargaku cemas” pikirku... tapi setelah ku pikir lagi, ah... semoga mereka tidak mencemaskanku. Aku kan jarang pulang, kadang 1 bulan sekali baru pulang. Semoga mereka mengira aku lagi sibuk di kampus.
Sudah 7 hari ini aku dirawat oleh nenek chiyo dan sakura. sakura susapinem nama lengkapnya, bapaknya sering memanggilnya inem. Sakura diberikan oleh neneknya yang orang jepang, sedangkan susapinem diberikan oleh nenek dari ayah yang tidak mau cucunya bernama aneh (menurutnya). Tapi aku lebih sering memanggilnya sakura, karena kecantikannya yang mirip emma watson itu...
Ternyata mujarab juga obat dari nenek chiyo. Lukaku sudah mulai mengering dan aku sudah bisa berjalan ke teras rumah. Si sakura merawatku dengan sangat sabar dan penuh perhatian. Dia sering menghiburku, bercanda denganku dan bercerita padaku. Dan akupun enjoy dengan sikapnya yang terbuka itu. Aku mulai menyukainya...
tapi benarkah aku menyukainya...? ya, benar, aku menyukainya...
karena itu, Aku mulai takut kalau kalau aku mencintainya seperti cintanya romeo kepada juliet. pun kelihatannya dia juga tertarik padaku. Aku harus melakukan sesuatu. pergi...
Kuputuskan di hari ke delapan aku pamit dari rumah ini.
“terimakasih nenek sudah menolong dan mengobati saya nek. Juga kepada bapak karena sudah mengijinkan saya tinggal disini. Tapi kelihatannya saya sudah sembuh. Karenanya saya ingin pamit untuk kembali pulang ke solo nek, pak” kataku pada keluarga ini. Sakura yang baru datang langsung nimbrung “ada apa sih pa, nek. Kok kelihatannya serius banget?” katanya menyela pembicaraan.
“ini lho nduk, mas arief pamit mau pulang...” jawab ayah sakura.
Tampak mimik sakura berubah. Sekilas pucat, tapi sekilas kemudian dia tersenyum. Sungguh sangat lain senyumnya kali ini. Senyum yang nampak terpaksa di mataku. “oh, mas arief udah mau pulang? Tapi sebaiknya tinggal dulu 3 hari lagi mas. Luka mas belum kering benar. Kalau digunakan untuk berjalan bisa membuka lagi. Kalau membuka dan berdarah lagi kan bahaya mas..?” jelasnya.
“insyaAllah gak pa pa kok mbak” walaupun dia lebih muda 2 tahun dariku, aku memanggilnya mbak, itu caraku menghormatinya.
“tapi benar kata sakura. Tinggalah barang 3 hari lagi. Aku tidak mengijinkanmu pergi sekarang. Terlalu beresiko!” kata nenek chiyo menguatkan sakura.
Terpaksa aku tinggal 3 hari lagi.
==oOOo==
pukul 14.00 Hari ke 10 aku berada di rumag sendiri, mempersiapkan bekal obat obatan alami yang sudah diberikan nenek chiyo padaku. Sesosok makhluk manis itu masuk ke dalam . “Sakura? ini, lagi nyiapin apa apa yang disarankan nenek chiyo untuk bekal.”
“mas benar benar mau pergi besok?” sambil mengunci pintu depan dari dalam.
“iya” jawabku singkat.
“mas...”
“ada apa sakura?”
“aku mencintaimu...”
jleguar.... bagai tersambar petir aku mendengar pengakuan gadis ini di depanku.
To Be continued...
belum, aku belum mati! Tapi dimana aku? Aku hanya bisa menatap langit langit rumah tanpa plavon. Rumah yang sangat sederhana. Tapi rumah siapa? Aku tidak mengenal ruangan ini...
“sudah siuman mas...” kata seorang gadis cantik berkulit putih. Pakaiannya sederhana, Tapi tidak mengenakan hijab. Kalau aku lihat lihat, gadis ini mirip artis idolaku EMMA WATSON. Tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu!
“saya dimana mbak?” kataku pertama kali pada gadis itu. Gadis yang kurasa masih seumuran denganku.
“di rumah saya mas, di desa pandanan. Kemarin mas saya temukan mas tergeletak di parit jalan korose saat saya dan nenek saya pulang dari sawah. Ada luka tusukan di perut mas yang cukup dalam. Tapi utunglah nenek saya seorang tabib. Jadi beliau langsung dapat menghentikan pendarahan di luka tusukan mas... karena rumah sakit terlalu jauh dari sini, jadi nenek saya membawa mas pulang untuk diobati. O ya, mas namanya siapa?”
“A..a.rief... Arief a.di” jawabku dengan suara lemah.
“mbak di rumah sendiri?” selidikku.
“iya” jawabnya singkat.
“ka.ka..lau begitu saya harus pergi sekarang.” kataku sambil berusaha bangkit dari tempat tidurku. Tapi aku tidak berhasil mengangkat sedikitpun tubuhku. Jangankan untuk bangkit, menggerakkan tangan saja rasanya sudah susahnya minta ampun...
“hihihi... mas mas... mas itu luka parah. gak mungkin bangun untuk beberapa hari ke depan. Mas tidur saja dulu... istirahat sampai sembuh. Baru pergi..” dia malah menertawakanku.
Tapi dengan sekuat tenaga berkat kekeras kepalaanku aku perlahan lahan berhasil duduk. Gadis itu kaget juga melihat aku bisa duduk.
“mas, istirahat dulu. Jangan banyak bergerak! Nanti lukanya membuka lagi” katanya cemas sampai berusaha membaringkanku lagi.
“Tidak! Aku tidak mau disini kalau hanya dengan mbak” kataku mencoba tegas.
“mas, maksudnya sendiri itu saya di ruangan lagi sendiri saja. Tapi saya tinggal disini dengan Ayah dan nenek kok” ayah di luar sedang membelah kayu bakar. Akan kupanggilkan kalau kau tak percaya.
“Ayah! Ayah...! kemari yah...” katanya setengah berteriak.
Tak lama kemudian seorang pria yang tampak tua datang tergesa gesa. “Ada Apa nem...!?” dia datang menghambur ke arahku dan tanpa ba bi bu membaringkanku lagi dengan paksa.
“Jangan bangun dulu mas. Istirahat dulu. Mas gak usah pekewuh dengan kami...” kata bapak tua itu meyakinkan.
Aku hanya bisa terdiam. Tenagaku sudah habis. Bergerak menjadi tambah sulit bagiku. Perkataan pak tua itu hanya ku balas dengan senyuman.
==oOOo==
sudah 7 hari aku di rumah ini. Semua barang barangku raib diambil perampok kemarin. Yang tersisa hanya sebuah tas yang berisi rantang bocor yang telah berjasa menyelamatkanku dari tebasan parang, juga dua butir obat cuci perut. Tak ada Handphone. “Pasti semua keluargaku cemas” pikirku... tapi setelah ku pikir lagi, ah... semoga mereka tidak mencemaskanku. Aku kan jarang pulang, kadang 1 bulan sekali baru pulang. Semoga mereka mengira aku lagi sibuk di kampus.
Sudah 7 hari ini aku dirawat oleh nenek chiyo dan sakura. sakura susapinem nama lengkapnya, bapaknya sering memanggilnya inem. Sakura diberikan oleh neneknya yang orang jepang, sedangkan susapinem diberikan oleh nenek dari ayah yang tidak mau cucunya bernama aneh (menurutnya). Tapi aku lebih sering memanggilnya sakura, karena kecantikannya yang mirip emma watson itu...
Ternyata mujarab juga obat dari nenek chiyo. Lukaku sudah mulai mengering dan aku sudah bisa berjalan ke teras rumah. Si sakura merawatku dengan sangat sabar dan penuh perhatian. Dia sering menghiburku, bercanda denganku dan bercerita padaku. Dan akupun enjoy dengan sikapnya yang terbuka itu. Aku mulai menyukainya...
tapi benarkah aku menyukainya...? ya, benar, aku menyukainya...
karena itu, Aku mulai takut kalau kalau aku mencintainya seperti cintanya romeo kepada juliet. pun kelihatannya dia juga tertarik padaku. Aku harus melakukan sesuatu. pergi...
Kuputuskan di hari ke delapan aku pamit dari rumah ini.
“terimakasih nenek sudah menolong dan mengobati saya nek. Juga kepada bapak karena sudah mengijinkan saya tinggal disini. Tapi kelihatannya saya sudah sembuh. Karenanya saya ingin pamit untuk kembali pulang ke solo nek, pak” kataku pada keluarga ini. Sakura yang baru datang langsung nimbrung “ada apa sih pa, nek. Kok kelihatannya serius banget?” katanya menyela pembicaraan.
“ini lho nduk, mas arief pamit mau pulang...” jawab ayah sakura.
Tampak mimik sakura berubah. Sekilas pucat, tapi sekilas kemudian dia tersenyum. Sungguh sangat lain senyumnya kali ini. Senyum yang nampak terpaksa di mataku. “oh, mas arief udah mau pulang? Tapi sebaiknya tinggal dulu 3 hari lagi mas. Luka mas belum kering benar. Kalau digunakan untuk berjalan bisa membuka lagi. Kalau membuka dan berdarah lagi kan bahaya mas..?” jelasnya.
“insyaAllah gak pa pa kok mbak” walaupun dia lebih muda 2 tahun dariku, aku memanggilnya mbak, itu caraku menghormatinya.
“tapi benar kata sakura. Tinggalah barang 3 hari lagi. Aku tidak mengijinkanmu pergi sekarang. Terlalu beresiko!” kata nenek chiyo menguatkan sakura.
Terpaksa aku tinggal 3 hari lagi.
==oOOo==
pukul 14.00 Hari ke 10 aku berada di rumag sendiri, mempersiapkan bekal obat obatan alami yang sudah diberikan nenek chiyo padaku. Sesosok makhluk manis itu masuk ke dalam . “Sakura? ini, lagi nyiapin apa apa yang disarankan nenek chiyo untuk bekal.”
“mas benar benar mau pergi besok?” sambil mengunci pintu depan dari dalam.
“iya” jawabku singkat.
“mas...”
“ada apa sakura?”
“aku mencintaimu...”
jleguar.... bagai tersambar petir aku mendengar pengakuan gadis ini di depanku.
To Be continued...
cerbung aneh [part3]
Reviewed by Arief Adi NUgroho
on
10/05/2009 10:10:00 PM
Rating: