Dia Menikah??

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat atau kejadian itu adalah sesuatu yang hanya direkayasa. Terimakasih…
O ya, disini saya kesulitan pake kata ganti orang. Jadi mungkin agak bikin yang baca bingung. Maklum masih pemula hehehe… selamat menikmati :-)
17 Desember 2009
Kamis Pagi, 17 Desember 2009 seperti biasa aku ~arief adi nugroho~ syuro PHT SKI FMIPA UNS. Seperti biasa acara dimulai dengan pembacaan taujih robbani. Yang dibacakan oleh akh banjar selaku kordept HUMAS. Dilanjutkan dengan Taushiyah dari ketum SKI akh sri yuwono yang sering dipanggil pak ketum. Selesai taushiyah dari pak ketum syuro dimulai. Membahas agenda DSI yang kian dekat KABAR ~kajian Akbar~ koreksi disana sini tentang acara kabar dimulai, usulan usulan mengalir deras seperti arus asungai yang sering dipakai untuk arung jeram. Memang tahun ini kondisi PHT SKI FMIPA UNS sangat bagus. Semuanya cerdas cerdas. Saya yang Alhamdulillah diamanahkan sebagai kabid kestari ya sedikit sedikit bias mengimbangi mereka walau masih banyak diamnya, hehehe... syuro berakhir pukul 07.25. Tahun ini SKI mendapatkan mas’ul yang sangat kharismatik. Sehingga kebanyakan agenda menjadi OT (On Time). Baik dimulainya maupun akhir acara. Alhamdulillah…
Setelah Selesai seperti biasa pula sang mas’ul memberikan kesempatan terakhir kepada rekan rekan jika ada sesuatu yang akan disampaikan. Dan Ternyata ada! Dari ukhti fitri (Korwat DSI, Fisika Angkatan 2008). “Assalamu’alaykum, sebelumnya saya mohon maaf karena terkesan sangat mendadak. ~Sambil menyerahkan 10 buah undangan lewat bawah hijab~. Alhamdulillah saya sudah menikah kemarin hari ahad tanggal 13 kemarin. InsyaAllah mengundang teman teman PHT untuk walimahan di palur, sementara masih nebeng orang tua hehe... Hari ahad 20 Desember besok dating ya akhi… ukhti…, Oya, Staffnya diajak juga ya!”.
“Alhamdulillah… barokallahu laka ukhti…” PHT ikhwan jadi senyum senyum. Ada juga yang mimiknya berubah. Karena memang ukhti Fitri ini, walau masih angkatan 2008 sudah terkenal tipe FBI (Female Bidikan Ikhwan) MOST WANTED di kalangan anak FISIKA maupun anak MIPA. Katanya sih, beliau itu adalah akhwat yang paling shining! Di fisika, juga di MIPA. Beliau juga cerdas, karenanya walau masih angkatan 2008 beliau sudah diamanahi sebagai korwat DSI. Tapi nggak tau juga kalau ternyata ada tandingannya di MIPA. Sekali saya lihat beliau, itupun gara gara dikasih tau temen yang FISIKA. Kalau Syuro, pasti Ide –ide fresh, brilliant, cerdas, dan inovatif keluar dari ukhti yang satu ini. Tapi walau sering ketemu pas syuro, ya nggak jelas wujudnya seperti apa. Cz kalau syuro’ kan pake Hijab :-). Hanya saja memang saya memiliki kekaguman tersendiri sama ukhti ini. Yah, begitulah. Saya harap ini hanya kekaguman biasa. Bukan cinta buta :-).
Syuro’pun selesai. Setelah selesai kebanyakan ikhwan memang masih di ruang KM. karena memang kebanyakan PHT ikhwan kuliahnya siang. Sedangkan PHT akhwat hanya beberapa yang tidak kuliah siang, alias kuliah pagi semua…
“rief, koe dibalap ukhti fitri! Ambisimu rak jadi PHT yang pertama nikah to?” yuwono mengawali ~keliatannya sih meh necroki aku~
“akhi… itu kan planning. Kalau Jodoh sudah saya pasrah sama Allah kok akhi… Tapi ya panas juga rasanya! Masa ana dibalap Nikahnya! Wis jan… ra bener kei ukhti Fitri. Malah dadakan sisan!” aku mencoba menjawab.
“Wah, bakalan ada BHM ini…” kata a’Roni menimpali(Kordept BPP, Fisika 2008)
“BHM apaan akh?” a’Banjar Tanya
“BHM itu Broken Heart Massal… hehehe…..” jawab a’Roni
~!@#$%^&*&^%$# “perbincangan menarik terjadi disini, tapi maaf disensor” #$%^&*&^%$#@
“Sudah sudah, hari ahad jam 7 pagi kita kumpul di lapangan parkir ya. Koordinasikan juga sama staff dan para korwat!” kata a’yuwono
“Siap pak ketum!” Jawab semua yang ada disana serempak.
Ada yang aneh pada undangan walimahan itu. Yaitu mempelai pria dan wanitanya tidak disebutkan! Bukankah orang yang baru saja menikah biasanya akan memakai nama keduanya dalam undangan? Tapi ternyata tidak ada yang menyadari hal tersebut.
Ahad, 20 Desember 2009
Pagi itu jam 6.45 anak anak SKI sudah pada banyak berkumpul di lapangan parkir. Ikhwan ada sekitar 20 orang sudah stand by di parkir bagian barat. Sedangkan Akhwat yang tak kalah banyak (Karena saya tidak menghitung) juga sudah banyak berkumpul di sebelah Timur parkiran MIPA. Semua biker. Sudah bawa motor dewe dewe, ada juga yang bonceng. Memang ketum SKI kali ini benar benar hebat, bias menggerakkan orang orang berangkat On Time! Atau gara gara acaranya walimahan jadi pada gak molor ya? Kalau kegiatan aja… mulurnya panjang banget hehehe…
Tepat pukul 7 sekitar 30 orang ikhwan dan akhwat yang tidak kalah banyaknya meluncur ke rumah ukhti fitri di palur city. Ukhti fitri sendiri yang memimpin konfoi. Konfoi Ikhwan berada sekitar puluhan meter di belakang rombongan akhwat. Karena memang ikhwan gak ada yang tau jalan ke rumah ukhti fitri.
15 menit kemudian sampailah rombongan di rumah ukhti fitri. Ternyata subhanallah, rumahnya bagus, luas, ada gazebo di depan rumah yang rapi itu. Rumahnya sederhana, rapi tapi luas dan tidak mewah. Tapi memang di depan rumah itu suasana terasa nyaman dengan beberapa pepohonan yang ada.
Ikhwan dipersilakan untuk duduk di bagian depan kiri. Dan akhwat di bagian belakang kanan. Ada jalan diantara kursi bagian kiri dan kanan. Pintu hanya di bagian depan dan belakang. Sedangkan pintu untuk ke dapur berada di depan. Jadi kalu mau ke dapur mau tidak mau harus lewat jalan dianntara dua bagian kursi kanan dan kiri. Sedangkan saya duduk di bagian paling belakang barisan ikhwan. Paling pinggir, alias dekat dengan jalan itu.
Perbincangan terjadi disana. Sebentar sebentar terdengar tawa ikhwan maupun akhwat yang lagi ngbrol. Ukhti fitri menemani ngobrol yang akhwat. Tapi tidak ada suami ukhti fitri yang menemani para ikhwan. Yang ikhwan pun ngobrol sendiri, karena mereka ndak berani Tanya dimana suami ukhti fitri.
Setelah 15 menit berlalu, ukhti fitri duduk dibagian paling depan akhwat. Ngobrol sama ukhti griya dan mbak bekti(korwat dept NISA’ periode kemarin). Suaranya terdengar samar samar. Entah kenapa tubuh ini terasa lemas, suaranya bak menggetarkan persendian. Hampir hampir semua bagian tubuh ini terpisah. Ya Allah… aku mencintainya? Mencintai ukhti Fitri, disaat seperti ini?! Yang benar saja… kenapa baru aku sadari? Aku mencoba untuk menguatkan diri. Perasaan yang baru kusadari, walau sebenarnya aku sudah risau dari beberapa hari yang lalu.
Beberapa saat kemudian ukhti fitri berjalan ke dapur “Sebentar ya mbak, saya tak ke dapur liat yang persiapan.” Itu yang saya dengar dari tempat duduk saya.
Beliau lalu berjalan kedapur dengan menunduk, karena akan melewati daerah ikhwan.
Ketika beliau sampai di samping saya, tak tau kenapa tangan ini secara reflek meraih tangan mungilnya! Aku memegang tangan ukhti fitri! Bukankah dia bukan mahromku?
Tak tau sejak kapan aku sudah berdiri dengan memegang tangannya. “Akh Arief!!” bentak ukhti fitri.
“RIEF…!!!” bentak pak ketum. Semua yang ada di ruangan memandang nanar kearahku dan ukhti fitri yang berusaha melepaskan tangannya diri dari cengkraman tanganku. Semua orang heran, tidak percaya kenapa seorang kader dakwah seperti aku melakukan hal ini. Bahkan mereka mengenalku sebagai seorang ikhwah yang sangat menjaga diri dengan makhluk yang namanya wanita. Semua hening… tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
“Jangan akhi..” kata ukhti fitri sambil berusaha melepaskan tanganku dari tangannya.
“Fitri…!” kataku padanya. Mencoba menenangkannya aku menatap tajam kedua mata cokelatnya. Dan diapun menatap kedua mataku. Keadaan saling menatap terjadi beberapa saat. Saat itu pula hening. Beberapa orang berdiri diam terpaku. Seakan kaki mereka terpaku ke bumi melihat adegan ini.
“Fitri… Arief sayang sama fitri… Arief cinta sama Fitri…” kataku dangan masih menatatap kedua matanya.
“ARIEF…!!” bentak pak ketum sambil berusaha membelah kursi kursi berjalan ke arahku. Tapi sebelum pek ketum mencapaiku. Ukhti Fitri menghambur ke pelukanku!
“Fitri juga sayang sama mas Arief…, Fitri juga cinta sama mas Arief…” Begitu katanya. Pak Ketum berhenti, langkahnya terhenti. Tubuhnya seakan terpaku ke bumi! semakin tidak percaya dengan keadaan staff staffnya! Padahal ukhti fitri adalah salah satu kader unggulan di MIPA! Kenapa.. kenapa..
“Karena Itu… kemarin fitri menerima pinangan akh arief, karena itu… kemarin Fitri menerima akh Arief jadi suami fitri, karena itu… ahad kemarin fitri diam ketika akh arief mengucapkan ijab Kabul untuk menjadikan fitri sebagai istri akh arief… ” lanjut ukhti fitri sambil melepaskan pelukannya dariku…
Suasana tegang itu agak mengendur… beberapa ikhwan ada yang tersenyum kecil, begitu pula temen temen akhwat. Pak ketum yang sudah berada didekatpun yang tadinya bermuka pucat, kembali berseri seri.
Aku menggandeng tangan istriku ke depan. Sambil tersenyum Lalu berkata “Afwan, akhi, ukhti… sedikit kejutan dari kami. Alhamdulillah, ukhti fitri ini sudah sah menjadi Istri saya seminggu yang lalu. Jadi ya jangan kaget kalau saya memegang tangannya seperti ini. Lagian beliau ini seneng kalau tangannya tak pegangi kaya’ gini”. Fitri mencubit pinggangku dengan muka merah.
Lalu dia melanjutkan “Afwan nggih semuanya, ini idenya mas arief kok. Saya cuman ikut ikutan(sambil tersenyum) sebentar ya, tak ngasih kode buat yang nyiapin makanan” lalu berjalan menuju pintu dapur.
Semua berpandangan. Dia akhwat ukhti griya dan mbak bekti juga terlihat saling berpandangan. Semua ikhwan lalu kedepan, menjabat tangan saya sambil mendo’akan saya sebagai pengantin baru… tak lupa rambut saya yang belum saya cukur ini diuyek uyek sampai nggak karu kauan.
“Afwan akhi…” kataku…
Senin, 12 Oktober 2009
Hari ini seperti biasa setelah kuliah aku ke tempat kerjaku. Kerja sampingan sih, sebagai programmer flash education. Usaha yang aku dirikan dengan akh Hans (staff media UKMI 2008, FSSR DKV angkatan 2007) yang didanai oleh pak hanif yang berumah di palur. Seorang Ikhwah juga yang dulunya juga mahasiswa MIPA UNS. Kantor saya di kosan sekitar jalan surya. Seperti biasa setiba disana saya langsung bercumbu dengan computer computer tercinta. Mengetikkan code code dari gambar gambar yang sudah didesain a’Hans.
Sekitar jam 14.00 pak hanif dating ke kantor memeriksa investasinya. Ya, memang baru sedikit yang kami hasilkan. Tapi Alhamdulillah gaji saya cukup untuk makan kos dan kuliah. Jadi uang dari ibuk tak tabung. Ibu saya itu, bersikeras mau membiayai saya sampai kuliah saya selesai. “Pokoke koe kuliah sing mbayar Ibuk le… koe kuliah wae sing sregep” begitu yang beliau sering katakan.
“Assalamu’alaykum, Gimana kabarnya akh arief?” Kata pak hanif memulai pembicaraan. Awalnya kami hanya membicarakan pekerjaan yang Alhamdulillah lagi banyak order dari sekolah sekolah untuk membuatkan animasi flash sebagai pembelajaran siswa. Tapi lama kelamaan pembicaraan mengarah ke hal hal pribadi. Maklum karena kami memang sudah akrab.
“Akh arief, anta kapan menikah?” pertanyaan yang dilontarkan pak hanif agak mengejutkan. Tapi memang dasarnya saya biasanya ngobrol masalah itu yo… tak kira hanya bercanda. Dengan jari masih menari di tuts keyboard saya jawab “pekan depan mungkin pak…” jawab saya asal. “masyaAllah akh arief yang bener…? Anta sudah dapat calon? Anta sudah khitbah?” beliau menanggapi jawaban saya dengan serius. “ealah pak..pak… pecan depannya ya masih depan nggak kelihatan. Sebenernya pengennya sih pecan depan secepatnya. Tapi sekarang ini mana ada akhwat yang mau punya suami seperti saya to pak?” jawab saya menenangkannya.
“oh.. kirain beneran pecan depan ini…” lanjut pak hanif.
“lah emang kenapa kalau beneran pak?” saya bertanya dengan penuh selidik.
Diam sejenak…
“begini akh arief, anta bener mau menikah secepatnya?” Tanya pak hanif.
“sebenarnya gitu pak, tapi saya masih bimbang untuk mencari calon.” Jawabku.
“Kalau saya carikan anta mau menikah?” kejar pak hanif
masyaAllah… bagai tersambar petir saya mendengar perkataan pak hanif. Tapi saya mencoba untuk menganggapnya biasa
“ya… kalau njenengan carikan.” Jawabku singkat.
“Begini akh, sudah sebulan ini bapak saya sakit sakitan. Beliau takut jika umurnya tidak panjang lagi..” menghela nafas sejenak “karena itu beliau ingin melihat putrinya menikah. Ya itu adik saya. Dan saya pikir anta adalah calon yang cocok untuk adik saya..”
Melihat mimic pak hanif yang terlihat serius saya jadi terbawa serius.
“Apa pak hanif benar benar yakin dengan saya? Saya ragu kalau adik njenengan mau sama saya. Lagipula penghasilan saya disini juga pas pasan.”
“saya percaya anta sudah mampu untuk berumah tangga. Juga saya melihat usaha kita kian hari kian berkembang. insyaAllah saya yakin anta mampu. Kalau masalah adik saya, insyaAllah beliau sudah tsiqoh saya. Juga bapak sudah percaya sama saya”
“mungkin saya perlu sholat istikaroh dulu pak. Ini bukan perkara kecil. Juga pertimbangan dari ibu saya. Orang tua saya satu satunya.”
“ya akh, anta benar. Saya tunggu jawaban anta sepekan lagi. Kalau anta siap nanti kita lanjut ke proses ta’aruf.” Kata pak hanif selanjutnya.
==oOOo==
Sabtu, 17 Oktober 2009
“buk, saya boleh menikah?” begitu yang saya sampaikan pada ibu saya untuk mengawali pembicaraan.
“nikah..? nikah sama siapa to le? Memangnya kamu sudah punya calon?” jawab ibuku dengan pertanyaan. Beliau terlihat kaget akan pertanyaan saya. Keningnya mengkerut, wajahnya yang tenang tampak serius. Dan kedua mata beliau terpaku padaku. Tampaknya beliau merasakan keseriusanku. Walau sudah beberapa kali aku bercanda mengenai masalah ini dengan ibuk.
“kalau calon sih belum pasti buk, tapi saya sudah ingin. Dan insyaAllah ada yang mencarikan.” Jawabku
“Apa sudah kamu pikirkan masak masak le… menikah bukan perkara kecil. Bias jadi sekali seumur hidup. Apa kamu yakin sudah mampu untuk menafkahi istrimu nanti lahir batin? Keliatannya gajimu dari part time itu ya pas pasan to le? Nanti tinggal dimana?” ibuku semakin membombardir dengan pertanyaan. Mungkin beliau sangsi dengan kemampuanku dan kesiapanku. Tapi insyaAllah aku sudah memiliki ilmu tentang ini.
“InsyaAllah buk. Sudah saya pikirkan. Saya meminta restu ibuk dulu, baru saya bias melanjutkan untuk ta’aruf buk. Ibuk kan orang tua arief satu satunya. Saya harap ibuk mendukung. Karena saya merasa sudah ingin menggenapkan separuh agama ini. Buk, insyaAllah Allah sudah mempersiapkan rizki bagi setiap manusia. insyaAllah buk…”
“…” diam
“yo terserah koe le. Asal itu sudah mbok pertimbangkan masak masak. Ibuk insyaAllah percaya karo koe..” kata ibuk selanjutya
Senin, 19 Oktober 2009
“Gimana Akh Arief? Lanjut ta’aruf?” Tanya pak hanif.
“InsyaAllah pak.” Jawabku mantap “InsyaAllah Ibuk saya juga sudah memberi lampu hijau.” Lanjutku.
“Alhamdulillah, bagaimana kalau besok ta’aruf. Besok jam 16.00 gimana?”
“Wah besok ana ada syuro PHT SKI pak, nggak tau kok pak ketum mindah hari. Padahal biasanya hari kamis pagi. Kalau diundur jam 16.30 gimana?” aku mencoba menawar.
“Ya sudah, tidak apa apa. Nanti tak bilang adik saya”
==oOOo==
Selasa, 20 Oktober 2009
“Afwan, ana ijin akhi. Ada agenda syari dengan kakak saya.” Begitu kata ukhti fitri (korwat DSI fisika 2008). Meminta ijin kepada akh yuwono sebagai mas’ul.
“ya, tafadholi ukhti” jawab pak ketum singkat.
Waktu menunjukkan pukul 16.00. syuro’ masih berlanjut. Membahas acara Matriks yang akan diadakan DK.
“trrr..trrrr… tr……” handphoneku bergetar. Pengingat dalam HPku ada tulisan. “TA’ARUF KE RUMAH PAK HANIF!” jam menunjukkan pukul 16.15.
“MasyaAllah… kok saya bisa lupa! Mungkin karena keasyikan syuro’ ini..” batinku.
Saya langsung ijin kepada pak ketum untuk meninggalkan syuro’.
Saya langsung meluncur ke rumah pak hanif. Sejuta Tanya dalam benakku. Seperti apa calon istriku? Siapa namanya? Bagaimana penampilannya? Sholehah kah? Bodohnya aku.. kenapa tidak aku tanyakan kemarin kemarin agar tidak penasaran seperti ini? Ah, entahlah. Yang penting aku meluncur ke rumah pak hanif yang ada di daerah belakang rumah sakit Dr moewardi. Untung cukup dekat dari UNS. Jadi bisa cepet juga sampainya. Sesampai di rumah pak hanif aku memarkirkan motorku di dekat vario pink di halaman rumah pak hanif. Rasanya kenal sama nih vario.. entah lah, mungkin hanya perasaanku saja.
“Assalamu’alaykum…” aku mengucapkan salam setibanya di depan pintu rumahnya pak hanif.
“Wa’alaykumsalam… Ahlan wa sahlan akhi..” sambut pak hanif dengan hangat
“Alhamdulillah.. belum telat kan pak?” sambil melihat jam HP yang menunjukkan pukul 16.28
“belum akhi, saya kira malah anta telat karena syuro. Tadi katanya anta asyik banget syuro’nya?” Membuka pembicaraan.
“katanya? Kata siapa…???” batinku
Jujur saya tidak memiliki kata kata untuk ngobrool sama pak hanif. Semua pikiran tertuju pada calonku itu. Entahlah, badan juga terasa panas dingin nggak karuan. Kaya’ maling ayam ketangkep warga dan siap digebugi massa.
Tak lama kemudian ada seorang akhwat keluar membawakan makanan kecil dan minuman. Dua orang. Seorang tampak sudah berumur kepala tiga. Seorang lagi tampaknya masih muda. Berumur sekitar sebaya dengan saya. Saya tidak begitu memperhatikan. Karena memang saya tidak pernah berani memperhatikan. Mereka berdua kemudia duduk di kursi sebelah kanan pak hanif. Saya duduk di kursi paling timur menghadap barat pak hanif duduk di kursi sebelah utara dan menghadap selatan, tapi posisi badannya menghadap saya. Kedua wanita itu lalu duduk di sebelah kanan pak hanif. Tak lupa seorang dari mereka, istrinya pak hanif. Ya. Beliau istrinya pak hanif. Saya ingat Sekarang, beliau pernah ke kantor sama pak hani dulu. Itu mempersilakan untuk memakan hidangan yang ada. “monggo dik, dimakan. Jangan malu malu” ucap mbak siti. Ya, saya ingat. Namanya mbak siti. Untuk yang satunya saya tidak berani memandangnya. Saya langsung meraih gelas the dan meminumnya sedikit. Berharap grogiku hilang dengan sedikit minuman.
Pak hanif mengajak ngobrol. Saya akhirnya bias agak cair karena pembawaan pak hanif yang cair bias menjadikan saya agak santai. Sampai pada akhirnya saya dikenalkan kepada akhwat yang duduk di samping kanan mbak siti. “ini fitri, beliau mipa juga lho, jurusan fisika angkatan 2008…..” kata kata selanjutnya saya lupa bagaimana persisnya. Saya masih belum berani memangdangnya. Dan kaya’nya sih dia juga ndak berani memandang saya. Padahal pak hanif sudah memperkenalkan saya dengannya dan berisyarat dengan menyinggung saya agar saya berani memandangnya.
“m.m.. a. a..Afwan, ini ukhti fitri korwat DSI MIPA?” itu kalimat pertama yang saya ucapkan kepadaya saat taaruf. Sambil saya mencoba memberanikan diri untuk memandangnya. Ternyata beliau mengangkat wajahnya yang semenjak tadi merunduk. Tepat pas saya melihatnya, tepat pas beliau menatap saya. Sekilas. Lalu kami kembali jadi grogi lagi. Kalo’ di ayat ayat cinta antara fahri dan aisha “pandangan kami bertemu, dan cess…”. “m.mm.. iya akh…” jawabnya pelan. Sangat pelan hamper hamper tidak terdengar. sambil mengangguk sedikit dan kembali menundukkan wajahnya yang tampak memerah. Sangat jelas terlihat memerah karena putihnya wajah beliau.
Subhanallah… inikah bunganya Mipa? inikah bidadarinya mipa? Inikah bidadiri syurga yang turun ke dunia? Inikah ukhti yang banyak dibicarakan itu. Sungguh, jikalau di dunia ini ada keindahan syurga. Maka dialah seluruh keindahan syurga yang ada di dunia! Kecantikan paras dan budinya sungguh mengesankan. benar kata orang, dia Benar benar FBI (Female Bidikan Ikhwan) Most Wanted! Dan dia akan jadi istriku? Yang benar saja…?? Apa aku pantas untuknya? Aku jadi tidak PeDe. Ah, belum tentu beliau mau meneruskan prosses ini…
==oOOo==
Senin, 2 november 2009
Pak hanif kembali dating ke kantor menanyakan apakah lanjut atau tidak. Sebenarnya saya sempat bimbang. Tapi pak hanif membuat saya berubah menjadi optimis. Dukungannya menguatkan saya.
“Baik lah pak, insyaAllah saya lanjut asal ukhti fitri lanjut”.
“Alhamdulillah akhi, insyaAllah adik saya juga sudah mantap dengan anta. Secepatnya anta datang bersama orang tua anta ke rumah orang tua saya untuk mengkhitbah adik saya akh”
“InsyaAllah pak…”
….
Ahad, 23 November 2009
Hari ini saya datang ke rumah ukhti fitri di palur city untuk melamar. Datang bersama ibu saya tercinta tiga mbak saya. mereka bersama suaminya(kakak ipar saya). Kami menyewa mobil yang cukup memuat kami. Ponakan saya juga ada yang ikut. Si wawa, firda,ridwan, yusuf dan azmi ikut acara lamaran ini. Acara berjalan lancar. Alhamdulillah dari pihak ukhti fitri menyambut dengan ramah. Dan penentuan tanggal ijabpun tidak neko neko kaarena Alhamdulillah dari kedua belah pihak sudah paham akan pernikahan secara islami. Dan dengan berbagai macam pertimbangan maka ijab Kabul akan dilaksanakan pada ahad, 13 Desember 2009. Di rumah ukhti fitri
==oOOo==
Ahad, 13 Desember 2009
Pukul 10.00 saya dan rombongan keluarga saya. Ibuk, mbak, kakak ipar dan pakdhe, paklik saya tiba di rumah calon mertua saya. Di palur city. Alhamdulillah acara ijab qabul berjalan lancar.
Subhanallah… saya punya istri sekarang! Tapi memang saat saya berjanji dalam ikatan suci ini, tidak ada seorangpun teman dari mipa maupun dari uns. Karena acara ini memang hanya sebatas keluarga dan tetangga sekitar saja. Ukhti fitri pun kelihatannya belum mempublikasikan pernikahan kami, kecuali dengan murabbi beliau. Mbak siapa saya lupa namanya. Tapi untuk akhwat mipa ataupun uns kelihatannya belum beliau kabari.
Prosesipun berakhir kurang lebih pada pukul 12, acara diakhiri pas waktu dhuhur. Kami sholat di mushola dekat rumah mertua saya. Setalah selesai kami kembali ke rumah mertua saya untuk beramah tamah kembali. Usai pukul 13.30 saya dan keluarga pamit pulang. Saya juga ikut pulang padahal semua keluarga saya sudah ikhlas saya tinggal dulu disana dengan istri saya. Dan sayapun pamitan sama mertua dan istri saya.
“Mau kemana mas?” kata ukhti fitri
“Pulang dik, mengantar ibuk dan mengambil motor biar nanti gampang kemana mana”
“kenapa tidak Besok saja mas? Fitri pengen malam ini mas tidur disini…” istriku merajuk sambil menggamit tanganku.
“Ada yang harus mas Ambil ke rumah. Penting dik, leppy mas lupa nggak kebawa. Padahal hari ini deadline harus ngirim tugas”
“Mas… ” sambil menatap manja
“Iya, nanti ba’da isya insyaAllah mas udah balik sini lagi kok. Jadi fitri ndak lama-lama rindu sama mas. Mas juga keliatannya ndak betah kalau lama lama pisah sama istri tercinta ini..”
==oOOo==
Ahad, 13 Desember 2009 pukul 20.05 WIB
Saya tiba kembali di rumah mertua saya dengan motor supra butut saya di rumah istri saya. Rumah mertua tepatnya. Setiba disana saya disambut istri saya dan keluarga istri saya, pak hanif juga masih disana. Perbincangan kecil terjadi disana. Subhanallah… suasana sudah terasa sangat akrab antara saya dan keluarga ini. Baik pak hanif yang sudah sejak semula akrab juga bapak ibuk dan saudara saudara dari istri saya. Saya merasa sangat diterima disini. Sebentar sebentar mereka mencandai saya dan fitri yang pengantin baru ini. Lucu juga sih, saya jadi ndak bisa menggambarkan . Kami ngobrol sampai jam 21.14 wib.
“kui lo le, bojomu wis kepingin” goda bapak “wis ya bapak juga mau tidur dulu. Hari ini rasanya Capek banget” lalu beliau menuju kamarnya. Dengan perkataan bapak ini seolah semua langsung paham untuk tidak melanjutkan perbincangan, semua mohon diri dengan teratur. Tentu saja karena saya anak baru perginya dari ruang keluarga ini paling terakhir. Saat semua sudah pergi, hanya tinggal kami berdua…
“Tidur yuk mas.” Dia yang sedari tadi duduk disampingku tiba tiba menggandeng lenganku dan menarikku ke kamar. Aku hanya bias tersenyum.
“fitri…”
“ya mas..”
“apa kau ridho dinikahkan denganku?”
#$%^&*()_*&^%$#$%^&*() Sendored &*()&^%$#@#&*()&^%$#@
Masalahe penulis gak bisa menuliskan apa yang dibayangkan. belum berpengalaman Hehehe…
==oOOo==
Senin, 14 Desember 2009, pukul 07.00
“Sayang, kamu udah menyebarkan berita pernikahan kita?” tanyaku pada istriku
“Belum, baru sama mbak riska”
“Kita jangan berangkat kuliah bareng dulu ya?”
“kenapa? Mas malu punya istri fitri..”
“Bukan begitu saying… mas saying banget sama fitri, Cuma mas pengen ngerjai temen temen aja. Fitri bantuin mas ya..”
“ngerjain?”
“Iya, sekali kali jahilin temen boleh kan? Kan fitri juga suka jahil..?”
“Eh, siapa bilang..? nggak jahil kok”
“nggak jahil cuman super jahil.. hihiih..”
“Ih.. Mas arief…” sambil mencoba mencubit pinggangku…
End Of Story,
Setiap mikir marahi pengin jan...
But will be continue nulis in true Live ^_^
insyaAllah…
Arief Adi, 1 Desember 2009
Reviewed by Arief Adi NUgroho
on
1/01/2009 04:35:00 PM
Rating: